Dari Tidak Sengaja ke Serius

Ketika SMP saya pernah mengikuti kursus komputer di LPK (Lembaga Pendidikan dan Keterampilan/Komputer) swasta di daerah saya, namanya LPK Bina Prestasi atau bisa disingkat LPK BinPres. Sejak saat itu saya mengenal komputer. Tetapi saya tak pernah tau apa itu yang namanya sistem operasi. Saya hanya mengenal Komputer dan isi di dalamnya ada Microsoft Word. Tentunya karena saya hanya mengikuti satu paket program : Ms. Word. …
Dalam belajar komputer saya membaca panduannya lalu mempraktekkannya, meskipun panduan yang diberikan ternyata sudah kadaluarsa. Ketika saya memasuki masa SMA, saya jadi sering pergi ke rentalan komputer. Saat itu belum ada yang namanya “Warnet”. Hingga di Almamater saya, angkatan saya adalah angkatan pertama yang ada pelajaran komputernya. Saya pun semakin tertarik untuk mempelajari komputer, apalagi telah disediakan LKS sebagai buku panduan. Buku-buku itu saya baca lalu saya praktekkan di rentalan maupun di lab komputer di sekolah.
Lulus dari SMA, tidak ada lagi yang dapat saya kerjakan. Terkadang saya pergi ke rentalan untuk sekedar mengetik yang tidak perlu. Beberapa bulan menganggur, paman saya membawa saya ke Jakarta untuk bekerja di distribusi minuman. Hanya bertahan selama 26 hari saya di Jakarta, lalu saya kabur, pulang ke rumah di Cilacap. Selang beberapa bulan, lalu saya bekerja di sebuah waralaba yang berpusat di Cilacap, namun saya ditempatkan di Purwokerto. Sebuah toko waralaba di Purwokerto itulah toko pertama dan terakhir yang saya tempati.
Mulai Menggunakan Linux
Di Purwokerto, tepatnya hidup di lingkungan mahasiswa Unsoed, tentunya tak jauh dari warnet dan rentalan. Terkadang untuk membuat sarana promosi toko saya datang ke rentalan. Atau ke rentalan hanya untuk mengetik untuk keperluan pribadi yang sepertinya memang tidak perlu. Tapi di situlah saya mencurahkan pikiran dan waktu luang saya.
Di sanalah saya mengenal warnet. Warnet pertama yang saya kunjungi bernama Giganet (sekarang sudah tutup 😀 ). Saat pertama kali masuk, saya merasa aneh, karena tampilan isi komputernya berbeda dengan yang di rentalan. Belakangan saya ketahui kalau komputer di warnet itu menggunakan Ubuntu, entah versi berapa. Untungnya saya tak pernah merasa kebingungan menggunakannya. Sesekali saya bertanya kepada operator “bagaimana cara memutar musik”. Ternyata caranya tak jauh beda dengan apa yang kulakukan sebelumnya. Eh, saya bukan nanya “caranya” ding…. yang saya tanyakan, “pake apa”. Saat menggunakan komputer, prinsip saya adalah komputer itu kan buatan manusia, toh kalau hanya sekedar menggunakan kita kan bisa pelajari.
Ada yang lucu ketika saya mengingat masa itu. Sempat pula saya bertanya pada operator, mengapa komputernya tak pake windows. Eh, si operator malah bilang “windows sih panganan apa? (ind: windows itu makanan apa?).” Saat itu saya cuma bisa melongo, karena saya tahu linux hanya dari koran dan buku.
Pada 2010 saya telah kembali ke kampung halaman, dan bekerja pada sebuah Warung Internet (WarNet) milik pengusaha lokal di Desa Gandrungmanis, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap Barat. Di sana saya memiliki banyak kesempatan untuk belajar karena: koneksi internet yang tak terbatas, bekerja dengan komputer yang saya diberi akses penuh untuk menginstall dan mengonfigurasinya.
Memasuki tahun 2011, saya di pindahkan ke sebuah cabang warnet di Kecamatan Bantarsari, Cilacap Barat. Pada suatu kesempatan, beberapa bulan setelah saya pindah ke warnet baru tersebut saya menginstall Sabily (Ubuntu Moeslim Edition; lupa versi berapa) pada server billing. Memang, semua komputer yang ada di warnet tersebut (dan warnet-warnet di sekitarnya) masih menggunakan windows bajakan. Untungnya, ketika owner berkunjung dan sempat menggunakan komputer billing beliau tidak protes. Hanya mengajukan pertanyaan, “Ini pake tema Linux apa Linux beneran?” Pertanyaan tersebuh malah dijawab oleh sahabatnya yang saat itu datang bersamaan dengan beliau, “Ini Linux beneran.”
 

5 thoughts on “Dari Tidak Sengaja ke Serius

  1. mantabs om, semoga semakin banyak orang2 yang mau mempelajari linux..dari tulisan akang saya berpikir begini : alangkah luar biasanya jika para pendidik di negara kita menggunakan Open source dalam pembelajaran TIK di ruang kelas !!
    bukankah ini akan lebih baik ? menciptakan generasi baru yang berbasiskan teknologi open source..hasilnya tidak dalam waktu cepat memang tp in shaa allah akan sangat bermanfaat bagi dunia opensource di negara kita.

  2. dawa ceritane ya kang Samsul Maarif? dan saya tidak meragukan kemampuan linux Kang Samsul Maarif. Satu dari sekian personel Linux Sidareja yg mumpuni :). Dan sebuah PR besar bagi Linux Sidareja utk mengkloning seorang Samsul Maarif dgn kemampuan linuxnya shg lahir generasi2 opensource handal di distrik Sidareja Cilacap.

  3. Cerita sederhana yang unik dan saya yakin hasilnya luar biasa. Dari cerita tersebut tersirat semangat dan kecerdasan mas Samsul yang berbeda dari orang kebanyakan. semangat mas, maju terus

Leave a Reply to Semar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *