Mengenal Linux, Mengembangkan Kreatifitas.

Suka Membaca dan Suka Komputer

Saya mengenal Linux karena dua hal: suka membaca dan suka komputer. Kesukaan saya pada membaca dan komputer mengantarkan saya mengoleksi buku, termasuk buku komputer (Majalah, tabloid, dll.). Sejak tahun 2002 saya khidmah (pengabdian) di sebuah Pesantren Yatim Piatu di Garut. Tahun 2004, Pesantren membuka toko alat tulis, buku dan kitab. Hampir setiap bulan belanja ke Bandung, salah satu tempat tujuan belanja adalah Palasari (pecinta buku dari Kota Bandung pasti tahu tempatnya), buku apapun ada, baru maupun lama..

Diantara buku-buku yang saya beli, ada beberapa majalah lama yang membahas tentang Sistem Operasi Linux dan Windows. Gambar-gambar di Majalah itu saya gunting dan di tempel di kertas daluang besar, sebagai ilustrasi komputer dan komponen pendukungnya, untuk  alat bantu saat kursus santri. Sampai saat ini(tahun 2014) kertas daluang itu masih ada, saya pajang di ruang depan rumah.

Mendapat Kiriman CD Ubuntu dari Canonical

Tahun 2006, saya mendapat kesempatan kuliah di salah satu Sekolah Tinggi di Jakarta, jurusan Dakwah. Akhir tahun 2008 saya magang, kebetulan ditempatkan di almamater. Di sini, saya mulai belajar mengenal internet. beberapa waktu kemudian, entah kenapa saya  jadi sering mencari info tentang Linux, bahkan menemukan link proyek ship it dari Ubuntu. Saya pun mengirimkan email meminta di kirim CD Ubuntu, tanpa berharap akan mendapat respon.

Sekitar dua minggu kemudian ada Pak Pos mencari saya, katanya ada kiriman paket dari Belanda. Saya kaget dan agak takut, merasa tidak pernah memesan atau membeli sesuatu dari luar negeri. Setelah bertemu, ternyata mendapat kiriman tiga keping CD Linux Ubuntu (Ubuntu, Kubuntu dan Edubuntu versi 8.10). Dengan bea Rp. 3000,- ketiga CD itu berpindah ke tangan saya. Saya sungguh bahagia, kok ada orang yang mau mengirim CD Linux gratis dari luar negeri, saya tidak habis pikir.

Memulai Petualangan dengan Linux

Setelah mencari informasi di internet saya test CD Ubuntu itu live CD. Nuansa coklat mendominasi, ini hal baru bagi saya yang selama ini terbiasa dengan warna biru Windows XP. Dan, suara pembukanya lebih aneh lagi, mirip tabuhan Tipa, Conga atau Beduk kecil. Setelah masuk ke Desktop lebih kaget, Taskbar-nya diatas bukan dibawah. Klik kesana kemari, melihat-lihat, dari kaget berubah menjadi heran, kenapa sudah ada aplikasinya? saya kan belum menginstal apa-apa hanya menjalankan Live CD saja!

Setelah heran menjadi bingung, MP3 tidak bisa dijalankan, video juga. Malah muncul tampilan aneh! drivernya tidak ada. Akhirnya saya matikan komputer, kembali ke Windows XP dan mencari tahu lebih jauh tentang Linux. Satu persatu hal-hal baru tentang Linux saya temukan. Masalah audio dan video bisa teratasi. Instalasi ke Hardisk pun sukses, bahkan dual boot.

Selanjutnya, mencari aplikasi yang mirip dengan aplikasi yang selama ini saya pakai di Windows. Satu persatu bermunculan, walaupun masing-masing aplikasi memiliki keunggulan dan kekurangan. Terkadang, keunggulannya justru bukan yang saya butuhkan.

Mungkin karena saya punya rasa penasaran tinggi, maka walaupun Linux di awal membuat kepala saya pening (karena hardisk terformat di GParted dan semua data hilang) tapi saya malah lebih intensif mencari referensi dari internet. Error, install ulang, error lagi ya install ulang lagi. Sedikit demi sedikit mulai ada pencerahan, instal ulang jadi semakin jarang.

Mencoba Distro-Distro Linux

Tahun 2010 saya selesai magang di tempat kuliah, kembali ke Pesantren. Membawa hampir lima box CD/DVD berisi data, multimedia dan juga ISO images Linux dan ebook-ebook serta artikel tentang Linux.  Di Pesantren, ternyata Linux tidak masuk brankas, justru lebih saya nikmati karena banyak komputer lama (pentium 2 dengan RAM hanya 64MB, Pentium 3 dengan RAM 128MB) bisa dipakai uji coba, dan ternyata lebih stabil dibandingkan saat menggunakan WinMe, kalau tidak kena virus ya karena hadware sudah aus.

Saya kemudian membeli modem CDMA dari penyedia Internet Anti Lelet. Karena cinta, dengan cara apapun pasti diperjuangkan. Linux Sabily Manarat lalu Sabily Badr, Sabily Uhud, Ubuntu sejak 10.04 samapi 11.10, Linux Mint Julia dan katya, fedora 14, 16, 17, 18, blankon dan Igos, Puppy, DSL, Zorin, Knoppix, OpenSuse entah versi berapa, dan distro-distro lain, bahkan FreeBSD dan PCBSD juga, semua saya download dengan kecepatan 16kbps menggunakan Deluge.

Tahukah Anda berapa rata-rata waktu yang saya perlukan untuk mendownload tiap ISO images itu? Yang rata-rata 1-1.5GB (seperti sabily) saya panteng komputer tiga hari tiga malam tanpa mati. menggunakan apa? Ubuntu 10.04 Lucid Lynk dan/lebih sering Sabily Badr 11.04, via torrent menggunakan Deluge. Ah, Rindu rasanya hati ini kepadamu Deluge, engkau telah mencomblangiku mendekati Linux, melewati jalan berpita sempit nan curam, namun engkau selalu sukses mencarikan injakan terbaik dengan banyak pohon peer, membuat aku membagikan buah leecher, dengan harapan banyak yang mau menanam seeder-nya, salahkah aku memanfaatkan torrent untuk meraih tangan Linux agar sampai kepangkuanku… ehm…

Satu-satu ISO itu saya burning, ada yang bagus langsung di coba live CD, ada yang failed langsung masuk tong sampah, berapa banyak CD dan DVD itu dikorbankan hanya untuk memuaskan rasa penasaran pada Linux. Hal itu berlanjut sampai pertengahan 2011, saat saya sudah merasa Sabily Badr 11.04 adalah Linux yang sesuai dengan jiwa saya. Sekarang, saya berfikir semua yang pernah saya tahu di Linux harus saya dokumentasikan, bikin ebook.

Membuat Tutorial Linux

Tutorial pertama yang saya buat adalah cara membuat partisi di Windows dan Linux. Sebab, saya pikir manajemen partisi adalah dasar paling penting agar pemula tidak kembali jatuh pada kesalahan yang sama seperti yang saya alami, hardisk 320GB terhapus data musnah hanya karena beberapa kali klik di GParted. Kemudian, Buku Multiple OS, satu komputer (dual core, RAM 1GB) saya instal enam OS sekaligus (Win7, Win Vista, Win Xp, Sabily Manarat, Linux Mint Julia dan Ubuntu Studio). Semuanya berjalan lancar. Buku ini saya print out di Pesantren, hanya sayang sebagian filenya error, karena disimpan di hardisk lama.

Kemudian, setiap kali mendapat masalah dan berhasil menemukan solusinya, saya berusaha menulisnya menjadi ebook/PDF, sebagian saya upload di blog pribadi dan mayoritas masih berupa draft setengah jadi di hardisk.

Saya dan Linux

Saya akhirnya menjatuhkan pilihan terakhir pada dua Distro Saja. Linux Mint versi LTS sebagai sistem utama dan Ubuntu untuk melihat perkembangan terbaru. Walaupun sampai saat ini masih juga download OpenSuse dan Fedora yang semakin menarik. Kemarin baru saja selesai download IGN sembilan Desktop (selalu saja ingin download ISO images).

Kenapa Linux Mint? Barangkali Anda berfikir terlalu gampang dan tanpa tantangan! Saya justru berfikir, jika semua distro Linux bisa seperti Linux Mint maka penyebaran Linux akan signifikan. Saya lelah dengan Windows bukan karena Windows jelek, tapi karena kamputer saya terlalu tua untuk dipaksa mengikuti perkembangan terkini, juga masalah klasik “virus” juga sungguh mengganggu. Ketika saya melirik Linux ada banyak harapan, tapi apa kemudian harus pupus dan mundur dengan segera hanya karena ada beberapa hal di Linux yang dianggap sulit! Dengan Linux Mint tidak banyak jawaban yang mesti kita sediakan untuk pemula, demonstrasikan dan semua fungsi berjalan, selesai. to reduce complexity!

Saya memilih Linux bukan karena ikut slogan atau ajakan dari komunitas atau hasutan teman, saya mencari sendiri dan Al-hamdulillah menemukannya. Terserah apa kata Dunia, yang pasti saya merasa enjoy, ada ketenangan dan kenikmatan tersendiri saat menggunakannya. Serasa OS ini milik saya yang bebas untuk saya apakan saja.

Saat ini (2014) saya lebih bahagia, ada banyak perkembangan di dunia Linux baik dari sisi OS maupun aplikasinya. Banyak yang saya harapkan dan saya butuhkan telah bermunculan dengan format yang sederhana dan mudah difahami oleh orang awam seperti saya. Terima kasih untuk Anda semua, Para pencipta, para pengembang, para pengguna, para kritikus, para kompetitor, dan semuanya, GOD BLESS YOU ALL.

Hal-hal yang saya kenang dari Linux

1. Satu keping CD sudah berisi Sistem Operasi dan Aplikasi (saya tidak habis mengerti)

2. Sistem Operasi bisa dengan simpel jadi Live USB, Live CD, bisa ditenteng kemana saja, bisa dipakai dikomputer siapa saja.

3. Flashdisk dengan gampang bisa di partisi di GParted.

4. Config Comfiz, ini membuat mata saya terbelakak saat awal melihatnya, apalagi saat melihat Knoppix Adriane, kok bisa!

5. CD/DVD Sistem Operasi boleh dicopy, disebar, dibagi-bagi, dan bahkan (kalau mampu) dirobah dan diedit isinya. Ada ya yang seperti ini?! padahal untuk menciptakan program bukan hal yang gampang.

6. semua orang bisa memiliki Sistem Operasinya sendiri, Debian-Ubuntu-Linux Mint-Depin-Backtrack, semua dari Debian, hanya dirubah citarasanya menjadi sesuai dengan keinginan masing-masing pengguna. Berbedaa dengan Windows XP, dari dulu sampai sekarang ya biru saja.

7. Update dan Aplikasi tersedia dengan gratis.

8. And much more… tidak mungkin disebut semuanya.

 Penutup

Tulisan ini dari berasal sudut pandang saya, seorang user yang hanya menggunakan komputer untuk urusan dasar. Tidak masuk ke ranah sistem administrasi, jaringan, web, pemrograman dan lain-lain. Dialami oleh seorang santri yang tidak punya wawasan ilmu komputer memadai, hanya pernah ikut belajar Word Star (WS) dan instalasi Windows. Sisanya, murni hasil belajar sendiri dari buku, majalah, tabloid dan internet (termasuk tentang Linux).

Masih ada banyak hal yang belum saya tulis, karena keterbatasan waktu, semoga tulisan ini menjadi nostalgia ke masa lalu yang bisa dinikmati oleh siapapun yang pernah dan akan bermesraan dengan Linux.

Teruslah berbagi! sebab berbagi tidak mengurangi, bahkan semakin mematangkan potensi.

Mengenal Linux, mengembangkan kreatifitas saya selama ini.

Terima kasih atas anugerah Open Source Softwares.

Salam!

Copyright (C)  2014  arhsa (Asep Roni Hermansyah Sumarna).
    Permission is granted to copy, distribute and/or modify this document
    under the terms of the GNU Free Documentation License, Version 1.3
    or any later version published by the Free Software Foundation;
    with no Invariant Sections, no Front-Cover Texts, and no Back-Cover Texts.
    A copy of the license is included in the section entitled "GNU
    Free Documentation License".

8 thoughts on “Mengenal Linux, Mengembangkan Kreatifitas.

  1. Ichsanuddin: Terima kasih
    Read_one: Allahu Akbar, wa fiika barokalloh
    Johnk12: You’re welcome, just a share. Nothing to be fantastic in this article.

  2. Dh,
    Saya tertarik pada linux sehingga saya membeli beberapa cd linux. akan tetapi saya agak kebingungan, bagaimana cara memulainya, semoga bapak dapat memberikan saya pencerahan.
    Terima kasih.

  3. Assalamu’alaikum.
    Jika boleh dan masih ada ane pengen minta filenya tutor linux, ubuntu dan sejenisnya. Jika ada Jangan yang bahasa inggris ya kang 😀 suka sedih ane bacanya… ;'( kaga ngarti… :v :v :v
    Pc ane pake dual boot pengen coba multipel (sundanese… :v )
    Wasalam.
    Baraya 🙂

Leave a Reply to arhsa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *