Linux, buat apa ?

     “…Saya bukan programmer, buat apa pakai linux ? Males ah, berurusan sama text hitam-putih itu. Pasti susah”. Beberapa dari user windows ketika berbicara tentang linux mungkin akan berfikiran seperti itu. Awal kenal linux, kebayangnya saya pengen jadi hacker (padahal gak ngerti programming sama sekali). Make OS aja pilih yang sangar, Backtrack. Habis nginstall, coba-coba nge-crack password wifi kampus gak berhasil. Saya fikir, ya memang susah jadi hacker. Menyerah ? Belum, begitu dapat update-an Backtrack langsung install lagi, coba lagi, gagal lagi. Ternyata memang susah, ya sudah balik ke windows. Iseng-iseng lagi, coba Ubuntu. Keren juga ternyata. Langsung jatuh cinta sama unity-nya. Selanjutnya, ubuntu jadi OS sekunder setelah windows. Mulai aktif dengan ubuntu, nanya sana-sini kalau OS-nya error. Rata-rata jawabannya para mastah di forum paling banter “Google it first”. Meh, tapi lama kelamaan saya juga sadar. Ya memang harus nyari di Google dulu. Kebanyakan masalah-masalah per-Linux-an sudah terjawab di forum-forum yang mungkin tidak kita ikuti. Selanjutnya, ngerjain tugas, nonton video, browsing, chatting, sudah mulai beralih ke Ubuntu.
Kemudian karena sudah tamat kuliah, setiap hari makin sering mainin ubuntu. Kecuali pas lagi main game, ya make windows lagi. Tidak bisa dipungkiri, semua distro linux masih terbelakang masalah game terutama game-game 3D yang free to play. Banyak game keren buat linux tapi harus beli dulu baru bisa main. Sayangnya saya bukan orang yang mau korban hanya untuk kesenangan itu. Akhirnya, tetap mempertahankan windows. Tapi kali ini terbalik, windows adalah OS sekunder dan Ubuntu naik tahta menjadi OS primer. Berhubung memang sudah tidak banyak lagi yang saya lakukan dengan windows. Tiap hari sebagai pengangguran ya kerjanya cuma browsing dan chatting gak jelas. Untuk masalah ekstensi dokumen tidak begitu membuat saya pusing. Untungnya sudah baca-baca sedikit tentang WPS ( kisngsoft office). Semua dokumen microsoft office dibaca hampir sempurna. Dari versi 2003 sampai dengan versi 2010. Ya paling susunannya saja yang acak-adut.
Sedikit demi sedikit, saya sudah terbiasa dengan ubuntu. Bukan cuma untuk browsing, atau nonton video saja. Sekarang makin banyak aplikasi yang membuat saya tertarik. Misalnya, Inkscape untuk mengolah gambar vektor, GIMP untuk editing foto, dan OpenShoot untuk utak-atik video dan yang paling membuat saya tertarik adalah Blender untuk 3d modelling. Hampir ditiap waktu luang saya belajar menggambar 3 dimensi menggunakan aplikasi Blender ini. Sebenarnya, hal pertama yang membuat saya tertarik untuk menggambar 3 dimensi adalah saat masih kuliah. Salah satu mata kuliah favorit saya adalah AutoCAD dan Inventor. Kedua software ini digunakan untuk menggambar 2 dan 3 dimensi. Berhubung saya dulunya mahasiswa D3 teknik mesin, jadi kedua aplikasi ini penting. Setelah tamat kuliah dan aktif menggunakan Ubuntu, saya kembali tertarik untuk menggambar 3 dimensi. Tapi bukan sekedar untuk drafting melainkan menggambar model karakter 3 dimensi. Sebelumnya saya juga sudah pernah mendengar nama Maya, dan 3ds Max. Di sini saya pindah lagi ke windows, download keduanya dan install. Coba-coba ngebuat gambar 3 dimensi, objek pertama saya waktu itu cuma kaleng coca-cola. Kendala terbesarnya adalah, spesifikasi Laptop yang jauh di bawah standar. RAM yang saya gunakan hanya 2 GiB, dan VGA Onboard. Untuk objek sesederhana itu, RAM terpakai full bahkan laptop ku sampai nge-hang. Akhirnya nyerah, uninstall balik lagi ke ubuntu. Beberapa waktu, saya baru ingat dengan Blender. Coba-coba install ternyata inerfacenya gak jauh beda dari Maya dan 3ds Max. Akhirnya saya rajin mantengin Youtube buat belajar 3d dengan Blender. Sampai sekarang, saya masih mengasah kemampuan saya di Blender. Bertemu dan belajar dari teman-teman yang sudah ahli. Dan sekarang semakin asyik dan awet bareng Ubuntu.

1 thought on “Linux, buat apa ?

Leave a Reply to wahyu Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *