Perjuangan: Saya, Skripsi, dan Linux

Oleh Mahisa Ajy Kusuma

Hmm, pengalaman menggunakan Linux ya.. Baiklah saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman saya selama menggunakan sistem operasi favorit saya ini.

Ketika pertama kali melihat langsung sistem operasi ini, saya memang sudah dibuat kagum oleh teman-teman saya yang telah menggunakannya terlebih dahulu. Terang saja, saya ditunjukan efek-efek desktop yang sangat manis sekali dari linux milik teman saya tersebut.

“Ah, kok keren ya..”

“Cantik banget.”

“Ngomong-ngomong gimana tuh caranya..”

Iya, saya hanya bisa berkomentar seperti itu.

Desktop saya, yang kala itu menggunakan sistem operasi Windows XP, pun tidak sanggup menandinginya. Saya hanya bisa terkagum-kagum memandangi efek-efek manis tersebut sambil berharap suatu saat nanti bisa memilikinya.

Waktu pun berlalu, singkat cerita, saya sudah banyak melewati hari-hari saya bersama Linux. Distro Linux (sebutan lain distribusi atau varian linux) yang sudah saya coba pun sudah sangat beragam. Mulai dari Ubuntu, Linux Mint, openSUSE, hingga Fedora. Berbagai efek-efek cantik yang terdapat di Linux juga telah saya cicipi semuanya. Sungguh, semuanya menarik sekali. Saya merasa beruntung karena telah mengenal Linux.

Juga, ada rasa bangga saat saya menunjukan kepada teman-teman betapa menariknya Linux yang saya miliki ini. Beberapa ada yang terkejut, ada yang sinis, dan ada pula yang mencoba meremehkan. Untuk yang terakhir tersebut, saya tak ambil pusing. Toh, biarkan saja mereka menikmati sistem operasi favoritnya mereka sendiri. Yang terpenting saya sendiri benar-benar merasa menjadi superstar saat menggunakan Linux. 🙂

Dalam kegiatan perkuliahan pun begitu, dengan bangganya saya mengeluarkan notebook saya yang sudah terinstal Linux di dalamnya. Tugas-tugas perkuliahan saya kerjakan dengan paket aplikasi LibreOffice. Untuk mengedit gambar, saya menggunakan aplikasi GIMP. Tugas pembuatan logo pun saya buat dengan menggunakan aplikasi Inkscape. Apa lagi ya? Banyak deh aplikasi-aplikasi alternatif yang dapat kita gunakan di Linux. Pokoknya setiap kawan-kawan saya menggunakan aplikasi tertentu di sistem operasi selain Linux, saya selalu mencari aplikasi alternatifnya. Bahkan, jika dosen menyarankan aplikasi tertentu, saya juga mencari alternatifnya yang tentunya berjalan di Linux. Seru, memang.. Pencarian aplikasi alternatif ini terkadang menjadi hal-hal yang dinanti oleh saya.

“Ada nggak, ya aplikasi alternatifnya?”

“Lebih bagus apa tidak, ya?”

Pencarian aplikasi alternatif ini selalu terlihat seru di mata saya. Pengetahuan saya mengenai tools-tools yang beraneka ragam tersebut menjadi bertambah. Saya menjadi semakin banyak tahu.

Menginstal aplikasi di Linux pun saya rasa sangat mudah. Saya cukup mencarinya di Software Center. Software Center ini bisa dibilang adalah pusatnya aplikasi. Berbagai macam aplikasi pun ada semua di sini. Kita tidak perlu susah-susah mencarinya di internet. Tinggal search saja aplikasi apa yang kita mau, lalu kita tinggal memutuskan apakah ingin meng-install-nya atau tidak. Pokoknya mudah sekali..

Saya, Skripsi, dan Linux

Mata kuliah mulai berlalu lalang, dosen-dosen pun datang dan pergi, tak terasa saya sudah menyandang predikat sebagai mahasiswa tingkat akhir. Berbicara mengenai mahasiswa tingkat akhir, pasti kita tak bisa lepas dari kata yang terdengar tabu untuk diperbincangkan, yaitu Skripsi.

Skripsi sudah di depan mata. Sebentar lagi saya akan melalui hari-hari bersama skripsi. Saya bersama dengan teman-teman yang lain sudah mulai sibuk dengan skripsinya masing-masing. Tak ada tatap muka di kelas seperti dulu lagi. Sekarang kami mulai berjalan sendiri-sendiri sembari memperjuangkan penelitian kami masing-masing.

Tema skripsi antara saya dan teman-teman pun beragam. Saya sendiri memilih “Pengolahan Citra” sebagai tema skripsi saya. Alasan saya memilih tema ini adalah karena saya merasa tertarik di bidang ini, dan juga saya sudah pernah mendapatkan mata kuliah ini di semester yang lalu.

Dalam pengerjaan skripsi ini, dari awal saya sudah berniat akan menggunakan aplikasi-aplikasi yang berlisensi open source. Iya, saya berusaha menjadi orang yang idealis di sini. Tidak ada lagi sistem operasi Windows, aplikasi Microsoft Office, dan aplikasi bajakan lainnya (hehe karena saya belum mampu untuk mbayar). Saya memilih menggunakan sistem operasi Linux dan berbagai macam aplikasi yang ada di dalamnya.

Karena saya sudah mencoba berbagai macam distribusi Linux, untuk edisi skripsi ini saya memutuskan untuk memilih Arch Linux sebagai teman seperjuangan saya. Alasan saya memilih Arch Linux ini adalah karena distro ini menerapkan sistem rolling release. Kalau distribusi Linux lainnya, semisal Ubuntu, ia hanya memberikan update selama kurun waktu tertentu. Kalau Ubuntu merilis versi terbaru dan bila kita ingin merasakan fitur baru yang ada pada versi tersebut, kita harus meng-upgrade-nya atau melakukan fresh install versi yang terbaru tersebut. Fresh install sepertinya bukan pilihan yang tepat apabila kita telah memiliki beragam aplikasi yang terinstal. Lalu, melalui cara upgrade entah kenapa Ubuntu saya menjadi lebih berat dibandingkan dengan sebelumnya. Nah, gimana baiknya? Berbeda dengan Arch Linux. Kalau di Arch Linux itu kita bisa merasakan sistem yang terbaru tanpa perlu menginstall ulang lagi. Kita hanya perlu mengupgrade Arch Linux kita, dan kita sudah mendapatkan versi terbarunya. Hal inilah yang membuat saya mencoba beralih ke Arch Linux.

Sebagai pengguna awam Arch Linux, tentunya saya mengalami kesulitan di awal penggunaan. Iya, saya sedang berusaha untuk beradaptasi dengan distribusi baru ini. Ah, iya, ini hanya masalah kebiasaan saja. Seiring berjalannya waktu, pasti saya akan menjadi lebih mahir menggunakannya.

Setelah semuanya siap, saya mulai menginstal satu persatu aplikasi yang dibutuhkan dalam pengerjaan skripsi saya. Beberapa aplikasi yang berkaitan dengan pengolahan citra, yaitu diantaranya OpenCV dan GNU Octave. OpenCV sendiri saya sudah pernah menggunakannya pada waktu mendapatkan mata kuliah pada semester yang lalu, hanya yang membedakannya dulu saya menggunakan sistem operasi Windows. Kali ini saya menggunakan sistem operasi yang berbeda. Sementara GNU Octave saya belum pernah menggunakannya. Hehehe..

OpenCV di Linux tentunya berbeda dengan di Windows. Nah, kalau di Linux yang sekarang ini, saya mengkonfigurasinya melalui Terminal Linux. Saya ketikkan suatu command tertentu seperti yang tertera di internet. Lalu, tekan Enter. Tsahhh.. Terkadang langsung berhasil, dan terkadang juga malah error. Haha.. Yang pasti lebih menantang dibanding konfigurasi di Windows. Terlihat lebih keren, tidak? Hehe..

Setelah aplikasi OpenCV sudah terinstall, saya mulai melakukan riset tentang pengolahan citra sambil mencoba memprogramnya langsung. Saya menggunakan aplikasi Geany untuk menuliskan baris-baris program. Geany ini ringan banget, enggak berat, cocok sekali untuk orang yang suka dengan sesuatu yang simple seperti saya ini.

Saat mengerjakan skripsi, saya juga tentunya melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Menggunakan Linux tentunya tidak membuat kita menjadi mati gaya. Untuk mendengarkan musik, biasanya kita menggunakan aplikasi Winamp, sementara Linux pun tentunya punya pemutar musik yang tidak kalah keren, dan yang paling saya suka adalah Audacious. Firefox dan Chrome juga dapat dijalankan di Linux, browsing pun menjadi hal yang menyenangkan juga bagi saya untuk menjelajahi konten-konten yang ingin saya cari tahu. Tak perlu fitur semegah Photoshop untuk mendesign gambar, GIMP pun sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mengedit gambar. Menonton Film atau Video, ada VLC. Membuat laporan, ada LibreOffice Writer. Semuanya serba ada, kok.

Menggunakan Linux tentunya tidak membuat kita menjadi mati gaya.

Hari-hari menjelang sidang pun segera tiba. Mau tidak mau saya harus mempersiapkan sesegera mungkin file presentasi yang nantinya akan saya presentasikan di hadapan para penguji. Saya membuat file presentasi dengan menggunakan aplikasi LibreOffice Impress. Penggunaannya mudah, mirip dengan tampilan Microsoft Office PowerPoint versi sebelumnya. Sehingga tak ada kendala sama sekali ketika saya menggunakannya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Yeahhh.. Di ruangan sidang inilah semuanya dipertaruhkan. Perjuangan saya selama ini, kurang tidur lupa makan dan lain-lain, dan juga berbagai kendala yang akhirnya terselesaikan, semuanya menjadi penyemangat bagi saya agar usaha saya selama ini tidak menjadi sia-sia.

Dengan hati setengah dag-dig-dug, saya masuk ke ruangan sidang. Senyum terbaik tidak lupa saya berikan kepada para penguji. Dan tentunya saya pamerkan Linux milik saya dan aplikasi yang telah saya kembangkan yang berlisensi open source ini. Hehe..

Sidang pun berjalan cepat. Beberapa menit kemudian saya sudah berkumpul bersama di luar ruangan bersama kawan-kawan. Setelah itu kami bersama-sama masuk ke dalam suatu ruangan. Di situ saya mendengarkan kata LULUS. Alhamdulillah. Usaha saya selama ini ternyata membuahkan hasil. Tuhan mengabulkan doa saya. 🙂

Terima kasih, Linux.
Kau telah mengajarkanku banyak hal.
Aku belajar banyak tentang sistem operasi saat aku menggunakanmu, yang tentunya tak aku dapatkan ketika aku menggunakan sistem operasi lain.
Aku menjadi mengenal apa itu kesederhanaan, kecantikan, dan keindahan.
Kau juga membuat aku menjadi manusia yang menghargai setiap karya orang lain.
Aku bangga mengenalmu.
Bahkan, aku pernah dekat sekali denganmu.
Kau mengisi malam-malamku ketika aku sedang memodifikasimu sedemikian rupa.
Itu tentunya agar kau menjadi lebih baik lagi sekarang.
Dan itu terbukti, bukan?
Sekarang kau menjadi lebih anggun dari biasanya.
Teruslah berjuang.
Terima kasih atas kerjasamanya. 🙂

5 thoughts on “Perjuangan: Saya, Skripsi, dan Linux

  1. Komplet bgt ngebahas aplikasi alternatif di linux supaya ngga mati gaya. Sebenernya ngga ada alasan utk beralih sistem operasi ke linux. Cuma satu masalahnya, butuh bgt pembiasaan utk beralih 😀

Leave a Reply to wahyu setiawan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *